Friday, January 8, 2016

Langkah Sederhana Improfisasi Diri Ala Nuno Permana

Langkah Sederhana Improfisasi Diri Ala Nuno Permana

Terkadang kita bosan dengan keadaan yang sudah ada pada kita, entah itu suatu kondisi yang mungkin jika dilihat dari sudut pandang orang lain kita adalah orang yang berhasil, sukses, bahagia atau semacamnya. Namun ada juga yang bosan dengan keadaan dirinya yang dianggap adalah suatu nasib yang tidak menyenangkan.             
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk improfisasi diri Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Nuno Permana
Nuno Permana
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

nunopermana.blogspot.com
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331

No comments:

Post a Comment