Wednesday, January 20, 2016

Bagaimana menghadapi kegagalan

Bagaimana seharusnya menghadapi kegagalan?

Orang-orang seperti itu menurut saya, tidak pernah mencoba sesuatu hal yang baru. Namun anda adalah seseorang yang berbeda Karena anda telah tersesat ke blog saya dan membaca artikel-artikel saya, yang berarti anda ingin merubah kehidupan anda menjadi lebih baik dari saat ini. Anda ingin mencari sesuatu hal yang baru yang dapat anda terapkan di kehidupan anda.
Anda mempunyai semangat dan saya yakin anda juga mempunyai pengalaman hidup yang luar biasa. Mungkin sudah banyak sekali kegagalan yang anda rasakan dan mungkin juga sebagian dari anda sudah sampai pada taraf ragu akan keyakinan anda sendiri untuk meraih apa yang anda inginkan. Mampukah saya? Berhasilkah saya? Sepertinya saya tidak sanggup lagi menghadapi kegagalan.
Hal-hal dibawah ini adalah beberapa point tentang kegagalan yang ingin saya sharingkan kepada anda. 

Kegagalan menciptakan hal-hal yang baru

Jika anda yang sedang mengalam kegagalan tentu akan selalu dibayang bayangi perasaan bagiamana ini semua bisa terjadi dalam hidup saya? Otak akan berfikir apa yang salah dan cara bagaimana seharusnya untuk memecahkan masalah. Terkadang dengan tidur pun kita akan menemukan jalan baru dan pemikiran baru setelah kita terbangun. karena otak kita tidak berhenti bekerja bahkan saat kita sedang tertidur lelap

Kegagalan melatih kesabaran anda

Nuno Permana
Nuno Permana

Jika anda adalah orang yang cepat emosi, apalagi ketika anda mengalami kegagalan, itu adalah satu hal yang sangat alamiah. Saya rasa hampir semua orang merasakan kekesalan atau kemarahan ketika menghadapi kegagalan. Namun poin yang pentingnya adalah jangan memendam kekesalan atau kemarahan anda.
Poin kedua adalah jangan menyalahkan dan mencari alasan. Seperti, saya tidak mendapat dukungan dari orang tua, karena modal yang saya miliki sedikit, saya tidak mempunyai kendaraan pribadi untuk mobilitas saya, saya memang dilahirkan dari keluarga tidak mampu, dsb.
Sekali anda menjadikan hal-hal tersebut sebagai alasan kegagalan anda, maka itu akan menjadi bagian dalam diri anda. Anda akan membawa alasan itu kemanapun anda pergi sehingga lama kelamaan akan menjadi karakter anda.
Silahkan lampiaskan emosi anda, tentunya dalam batas-batas wajar. Mungkin anda ingin melampiaskannya dengan menangis, menangislah. Mungkin anda ingin melampiaskannya dengan pergi ke cafe untuk mendengarkan life musik, pergilah ke cafe.
Namun cukup sampai disitu. Masa depan yang sangat cerah masih menanti anda. Bangkit dan berjalanlah kembali.

Kegagalan merupakan sumber dari kreatifitas

Siapa yang menghendaki kegagalan? Namun jika anda tidak pernah berharap untuk mengalami kegagalan maka pikiran anda tidak dirangsang untuk berkembang. Gagal akan mendorong anda menjadi lebih kreatif.
Coba anda ingat-ingat kembali masa kecil anda. Jika anda lupa, anda bisa melihat pada anak anda sendiri atau anak-anak kecil di sekitar anda. Mereka tidak pernah takut akan berbuat kesalahan ataupun mengalami kegagalan. Mereka melakukan semua hal yang ingin mereka lakukan tanpa berpikir panjang resikonya. Kadang mereka jatuh namun dalam sekejap mereka bangkit dan berlari-lari kembali. Mereka kadang menemukan jalan buntu ketika melakukan sebuah permainan namun mereka tidak berhenti, mereka berusaha mencari solusi-solusi yang baru. Akibatnya pikiran mereka begitu kreatif. Kita semua bisa mencontoh pikiran murni mereka yang belum banyak terkontaminasi oleh lingkungan sekitarnya.

Kegagalan akan mengoptimalkan potensi anda

Mungkin anda mempunyai seorang ’guru’ dalam hidup anda atau atasan bagi mereka yang berkarir. Saya percaya bahwa guru atau atasan yang baik akan mengarahkan anda untuk berani mengambil resiko. Mereka mempunyai suatu keyakinan bahwa pikiran yang konservatif tidak akan membuat potensi diri keluar dengan optimal.
Semakin sering anda mengalami kegagalan, otak anda akan semakin dilatih untuk menghadapi permasalahan dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki potensi diri yang sangat besar dengan keunikannya masing-masing. Anda dapat mengetahui kedahsyatan potensi yang anda miliki hanya dengan keberanian menghadapi masalah, tidak ada jalan lain.

Anda memperoleh kekuatan dengan mengalami kemalangan

Bersyukurlah jika anda mengalami kegagalan atau kemalangan. Karena dengan kegagalan anda sedang disiapkan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar. Anda akan ditempa untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Saya akan memberikan sedikit ilustrasi :
Anda tahu pohon bambu cina? Jika anda termasuk orang yang tidak sabar menunggu pertumbuhan sebuah tanaman, mungkin pohon bambu tersebut sudah menjadi korban anda.
Pohon bambu cina tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 6-7 tahun pertama, mungkin hanya tumbuh beberapa puluh cm saja. Namun setelah waktu tersebut, pertumbuhan pohon bambu cina tidak dapat dibendung, ia tumbuh begitu cepatnya dan ukurannya bukan lagi cm melainkan meter.
Sebetulnya apa yang terjadi pada pohon bambu cina tersebut? …. Selama 6-7 tahun pertama, ia bukannya tidak mengalami pertumbuhan, hanya saja kita memang tidak melihat pertumbuhannya dengan kasat mata. Fokus pertumbuhan pohon bambu cina pada waktu tersebut adalah pada akar, bukan pada batang. Pohon bambu cina sedang menyiapkan pondasi yang kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter.
Bayangkan apa yang terjadi jika pohon bambu cina tidak mempunyai akar yang cukup kuat untuk menopang ketinggiannya? Sedikit tiupan angin saja akan membuatnya tumbang.
Jika anda seringkali mengalami kegagalan dan merasa kok jauh sekali dari kesuksesan yang anda impikan, bukan berarti anda tidak mengalami perkembangan. Justru anda sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri anda. Mental anda sedang ditempa dan dipersiapkan menuju kesuksesan anda. Sama halnya dengan pohon bambu cina tersebut.
Jika anda hanya mengharapkan sebuah hasil yang instan, apapun itu, nasib anda akan seperti pohon bambu yang tidak memiliki akar yang kuat. Sedikit goncangan saja, anda akan jatuh begitu kerasnya.
Jadi sekali lagi bersyukurlah dengan segala kemalangan dan kegagalan anda, anda akan memperoleh kekuatan karenanya.
Bagi anda yang ingin mensharingkan hal-hal sehubungan dengan kegagalan, silahkan email saya atau tulis di Komentar.

Friday, January 8, 2016

Langkah Sederhana Improfisasi Diri Ala Nuno Permana

Langkah Sederhana Improfisasi Diri Ala Nuno Permana

Terkadang kita bosan dengan keadaan yang sudah ada pada kita, entah itu suatu kondisi yang mungkin jika dilihat dari sudut pandang orang lain kita adalah orang yang berhasil, sukses, bahagia atau semacamnya. Namun ada juga yang bosan dengan keadaan dirinya yang dianggap adalah suatu nasib yang tidak menyenangkan.             
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk improfisasi diri Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Nuno Permana
Nuno Permana
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

nunopermana.blogspot.com
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331
Introspeksi Diri adalah Langkah Awal Untuk Mengubah Nasib Tanpa introspeksi diri, tak akan pernah terjadi perubahan nasib, sebagaimana yang diharapkan. Introspeksi diri atau dalam bahasa keseharian dipahami sebagai koreksi diri, sesungguhnya adalah langkah awal, bagi siapa saja yang ingin mengubah nasibnya, menjadi lebih baik “Bad habits” atau kebiasaan jelek yang selama ini berlangsung dan menina bobokan banyak orang adalah merasa diri sudah benar dan senantiasa mencari sosok atau sesuatu yang dapat dijadikan kambing hitam,,atas nasib kita yang tak kunjung berubah menjadi baik. Bahkan ,tidak jarang kita memiliki cukup waktu untuk mengintrospeki atau mengoreksi diri orang lain, Ininya nggak benar, seharusnya ia begini dan seterusnya.Saking asyiknya kita, sehingga lupa koreksi diri sendiri. Ada sejuta alasan untuk mencari pembenaran diri , dengan menyalahkan : keadaan Krisis moneter Pemerintah yang tidak becus Dollar yang naik Rupiah yang turun Keluarga yang tidak mendukung Istri yang tidak mau memahami Lingkungan yang brengsek Selalu Minta Dipahami “Saya sudah bekerja keras bertahun tahun,demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keluarga saya tidak pernah mau memahami saya. Tidak memberikan dukungan mereka. Akibatnya yaa, beginilah ,nasib saya tidak pernah berubah. Kalau Kita Tidak Bisa Memahami Diri Sendiri,Bagaimana Mungkin Orang Lain Dapa Memahami Kita? Agar orang lain dapat memahami diri kita,sewajarnyalah bila terlebih dulu,kita memahami diri kita,dengan melakukan koreksi diri. Apakah benar kita sungguh sungguh sudah bekerja keras atau hanya merasa sudah bekerja keras, tapi sebenarnya hanyalah menjalani hidup secara rutinitas dan berharap suatu waktu terjadi keajaiban dan tiba tiba nasib kita berubah jadi baik? Atau mungkin selama ini, kita hanya bekerja keras dengan otot, tanpa memanfaatkan akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan? Orang yang bekerja hanya mengunakan otot, maka seumur hidup ia akan jadi kuli. Contoh nyata: kuli bongkar muat, kuli bangunan ,yang hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bekerja,,dengan pikiran ,yang penting bisa hidup. Harus Ada Tekad ,Upaya dan Kerja Keras Untuk Ubah Nasib Menjalani hidup sebagai kuli di pabrik karet di pinggiran kota Medan ,selama dua tahun , menjadi penjual kelapa di pasar kumuh Tanah Kongsi, menyadarkan saya untuk melakukan introspeksi diri, Menyadari, bahwa kalau kalau saya tidak bertekad bulat ,berusaha dan bekerja keras, maka selamanya saya akan tinggal di pasar kumuh Tanah Kongsi dan menjadi penjual kelapa. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kehidupan istri dan anak anak kami. Maka sejak saat itu, saya mulai dengan mengubah sikap mental saya.Dengan selalu optimis menghadapi hidup dan mencari berbagai upaya ,untuk menemukan jalan mengubah nasib kami Memang perubahan sikap mental, tidak secara serta merta mengubah nasib kita, namun sebuah titik terang telah ada didepan kita, yakni keyakinan diri,bahwa saya akan mampu mengubah hidup kami menjadi lebih baik. Jangan Berharap Nasib Akan Berubah,Bila Takut Akan Kegagalan Kegagalan bukanlah akhir segala galanya. Malahan kegagalan demi kegagalan adalah anak tangga untuk menuju kesuksesan untuk mengubah nasib kita. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk merencanakan perubahan hidup,kendati mungkin saja ,kegagalan demi kegagalan menghadang jalan kita . Karena bila kita gagal merancang kesuksesan dalam hidup kita, maka berarti kita secara tanpa sadar sudah merancang kegagalan bagi diri kita Harapan dan Terwujudnya Antara sebuah harapan yang dibangun ,hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan, ada jembatan yang harus diseberangi, Ada tenggang waktu yang harus dipahami. Tidak mungkin kita bisa mengubah nasib secara instan,melainkan butuh kesabaran untuk menjalani prosesnya. Bisa terjadi dalam waktu singkat, namun bisa saja baru terwujud dalam waktu bertahun tahun.Saya pribadi butuh proses tujuh tahun, dari penjual kelapa ,menjadi seorang pengusaha . Semoga tulisan kecil ini, ada manfaatnya bagi orang banyak. Setidaknya mengingatkan, agar jangan berleha leha,Karena waktu tidak menunggu kita, Waktu yang kita sia siakan, tak akan pernah dapat kita raih lagi. Oleh karena itu, apapun alasan dan halangannya, Never ever Give Up. Jangan pernah menyerah, karena menyerah berarti game is over!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mau-ubah-nasib-mulailah-dengan-introspeksi-diri_55ee6845d17e61d3043db331